Selasa, 6 September 2011

Hubungan antara Aqidah dan Syariat


Oleh Abu Ismail Atsari

Termasuk perkara yang secara pasti telah diketahui dalam agama Islam, bahwa din (agama Islam) meliputi ‘Aqidah dan Syari’at, ilmu dan amal. Keduanya merupakan kesatuan. Memisahkan di antara keduanya merupakan kesesatan yang nyata.

Makna Aqidah

Secara bahasa, ‘aqidah berasal dari kata al ‘aqdu. Artinya: mengikat, memutuskan, menguatkan, mengokohkan, keyakinan dan kepastian.[1] Adapun secara istilah, ‘aqidah memiliki makna umum dan khusus [2].

Makna ‘aqidah secara umum adalah, keyakinan kuat yang tidak ada keraguan bagi orang yang meyakininya, baik keyakinan itu haq maupun batik. Sedangkan ‘aqidah dengan makna khusus adalah, ‘aqidah Islam, yaitu: pokok-pokok agama dan hukum-hukum past, yang berupa keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para nabi-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, serta perkara lainnya yang diberitakan oleh Allah dalam al Quran dan oleh Rasul-Nya di dalam hadits-hadits yang sahih. Termasuk aqidah Islam, yaitu kewajiban-kewajiban agama dan hukum-hukumnya yang pasti. Semuanya itu wajib diyakini dengan tanpa keraguan.

Makna Syari’at [3]

Secara bahasa, syari’at berasal dari kata asy syar’u. Yang memiliki arti: membuat jalan, penjelasan, tempat yang didatangi, dan jalan. Adapun secara istilah, syari’at memiliki makna umum dan khusus.

Makna syari’at secara umum adalah, agama yang telah dibuat oleh Allah, mencakup ‘aqidah (keyakinan) dan hukum-hukumbnya. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala:

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy Syuura/42 :13)

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari as-Suddi tentang firman Allah Ta’ala “Dialah yang telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh”, dia berkata: “(Maksudnya) yaitu agama semuanya (yakni semua bagian-bagiannya, Pen.)”.

Sedangkan makna syari’at secara khusus, yaitu peraturan yang dibuat oleh Allah yang berupa hukum-hukum, perintah-perintah, dan larangan-larangan. Hal ini seperti firman Allah Ta’ala:

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al Maa’idah/5 :48)

Telah diketahui bahwa maksud syari’at (aturan) dalam ayat ini adalah peraturan-peraturan, bukan ‘aqidah. Karena ‘aqidah seluruh nabi semua sama, sedangkan peraturannya berbeda-beda sesuai dengan keadaannya [4].

Dengan demikian kita mengetahui, bahwa syari’at memiliki makna umum dan khusus. Jika syari’at di sebut sendiri, maka yang dimaksudkan adalah makna umum, yaitu agama Islam secara keseluruhan. Sebaliknya, jika syari’at disebut bersama ‘aqidah, maka yang dimaksudkan adalah makna khusus, yaitu hukum-hukum, perintah-perintah, dan larangan-larangan dalam masalah agama yang bukan ‘aqidah (keyakinan).

Hubungan ‘Aqidah dengan Syari’at

Istilah ‘aqidah, jika disebut secara umum (sendirian), berarti menyangkut pokok-pokok dan hukum-hukum syari’at dan keharusan dalam mengamalkannya. Sebagaimana istilah syari’at. Jika disebut secara umum (sendirian), maka itu menyangkut perkara-perkara keimanan dan pokok-pokok serta hukum-hukum syari’at yang pasti, yaitu ‘aqidah. Sebagaimana di atas telah dijelaskan dari firman Allah Ta’ala:

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu,..” (Asy Syuura/42 :13)

Dengan demikian, maka ‘aqidah dan syari’at merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana telah diketahui bahwa iman itu meliputi keyakinan dan amalan. Keyakinan inilah yang di sebut dengan ‘aqidah, dan amalan ini yang disebut syari’at. Karena memang iman itu, jika disebutkan secara mutlak (sendirian) maka ia mencakup keyakinan dan amalan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” ( Al Hujuraat/49 : 15)

Juga firman-Nya:

“Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya[528]. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari.” (Al A’raaf/7 : 2-4)

Hadiah buat anak soleh


NABI Sulaiman dikurniakan oleh Allah SWT kelebihan yang istimewa dan memiliki banyak mukjizat. Dengan izin Allah, baginda boleh melihat sesuatu yang terselindung daripada pandangan mata manusia biasa.
Pada suatu hari, baginda berjalan-jalan di tepi laut untuk melihat kebesaran Allah SWT. Tiba-tiba baginda terlihat ada sesuatu yang menakjubkan di dalam dasar laut itu. Kemudian baginda memerintahkan Jin Ifrit supaya menyelam ke dasar laut untuk mengetahui benda tersebut.
Jin Ifrit pun terus menyelam ke dalam laut untuk mendapatkan benda yang ajaib itu tetapi tidak menemuinya. Kemudian, Ashif bin Barkhiya, iaitu seorang lelaki telah menawarkan dirinya untuk menyelam ke dasar laut tersebut, dan dia telah menjumpai suatu benda yang berupa sebuah kubah.
Dia sangat kagum dengan kecantikan kubah tersebut lalu mengangkatnya dan ditunjukkan kepada Nabi Sulaiman.
"Alangkah indahnya kubah ini. Aku berasa hairan dibuatnya. Aku telah dikurniakan oleh Allah mukjizat sehingga pandanganku dapat menembusi segala sesuatu yang terselindung. Tetapi kali ini aku tidak dapat melihat sesuatu di dalam kubah ini," kata Nabi Sulaiman.
Lalu baginda pun berdoa kepada Allah agar dapat melihat isi kandungan kubah itu. Doanya dikabulkan oleh Allah, dan kubah tersebut terbuka pintunya. Di dalamnya ada seorang pemuda sedang sujud sambil memuji Allah tanpa henti-henti.
"Siapakah engkau. Manusia, jin, atau malaikat?" tanya Nabi Sulaiman.
"Aku seorang manusia biasa," jawab pemuda itu.
"Bagaimana engkau memperoleh kemuliaan serupa ini?" tanya Nabi Sulaiman.
"Kerana aku telah berbuat kebaikan kepada kedua-dua orang tuaku," jawab pemuda itu.
Pemuda itu pun menceritakan kepada Nabi Sulaiman tentang kisahnya memelihara kedua-dua ibu bapanya. Mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang soleh dan kuat imannya. Sejak kecil dia dipelihara oleh ibu bapanya dengan didikan yang baik dan mereka sentiasa mendoakannya menjadi anak yang soleh.
Bapanya telah meninggal dunia. Kemudian dia telah memelihara ibunya yang sudah tua, buta, lumpuh, lemah dan selalu sakit. Ibunya sangat mengharapkan dia supaya menjaga dan menguruskan segala keperluannya.
Dia selalu menyuapkan makanan ke mulut ibunya, memberi minuman dan memandikannya. Ibunya selalu berdoa kepada Allah supaya dia akan dikurniakan ketenangan dan kepuasan dalam hidupnya. Sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, ibunya telah berdoa agar dia diberikan tempat bukan di bumi dan bukan juga di langit.
Suatu hari pemuda itu berjalan-jalan di tepi laut. Dia melihat sebuah kubah, lalu masuk ke dalamnya. Pintu kubah itu tiba-tiba tertutup. Pemuda itu pun berdoa kepada Allah, lalu kubah yang gelap itu tiba-tiba menjadi terang benderang.
Suasana di dalam kubah itu berubah menjadi kebun yang dipenuhi dengan pohon-pohon, kolam air susu dan madu, suara-suara yang merdu dan segala makanan yang lazat. Jika dia lapang, dia akan memetik buah-buahan yang pelbagai rasa itu. Jika dia dahaga, sudah tersedia di hadapannya pelbagai macam minuman yang lazat.
Oleh kerana pemuda itu mahu meneruskan solat dan zikirnya kepada Allah, Nabi Sulaiman dan para pengikutnya terpaksa keluar dari kubah tersebut. Kemudian baginda memerintahkan supaya mengembalikan semula kubah itu ke dasar laut. Setelah itu, pulanglah baginda bersama bala tenteranya menuju ke istananya.
Petikan daripada buku 366 Kisah daripada Al-Quran terbitan Edusystem Sdn. Bhd

Jumaat, 2 September 2011

Ikhlas bezakan amalan


IBADAT dalam Islam adalah kemuncak sifat kepatuhan dan ketundukan kepada Allah yang juga pengiktirafan keagungan Tuhan disembah. Menerusi ibadat, umat Islam dapat berhubung dan mendekatkan diri kepada Allah (hubungan menegak).


Ibadat juga memberi kesan mendalam antara perhubungan manusia sesama manusia dan dengan makhluk lain (hubungan mendatar) di dunia ini.

Pengertian ibadat dalam al-Quran cukup luas, tidak terbatas kepada perkara difardukan saja, malah meliputi semua perkara dilakukan dengan ikhlas.

Allah berfirman bermaksud:

“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (mengikhlaskan) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”
(Surah al-Bayyinah, ayat 5)

Ikhlas kunci bagi segala bentuk amalan dan penanda yang membezakan antara ibadat dengan adat. Jadi, sesuatu amalan dilakukan penuh keikhlasan dikategorikan sebagai ibadat, meskipun tidak mempunyai perintah secara langsung dalam al-Quran dan hadis.

Menurut al-Quran, kehidupan di dunia satu kesatuan yang wujud di dalamnya hanyalah semata-mata mengabdikan diri kepada Allah. Oleh itu, Islam menetapkan supaya seluruh cara hidup manusia dipelihara supaya menjadi ibadat dan sebagai tanda kepatuhan kepada Allah.
Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya yang bermaksud:
“Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepada-Ku. Aku tidak sekali-kali menghendaki sebarang rezeki pemberian dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah (Dialah) saja Yang Memberi rezeki (kepada sekalian makhluk-Nya, dan Dialah saja) Yang Mempunyai Kekuasaan yang tidak terhingga, lagi Yang Maha Kukuh kekuasaan-Nya.”
(Surah al-Zariyat, ayat 56-58)

Perlu dijelaskan setiap tindakan dilakukan seseorang Muslim dalam kehidupan berkait rapat dengan akidahnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Allah berfirman bermaksud:
“Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam.”
(Surah al-An’am, ayat 162)

Oleh itu, kita mestilah memastikan segala ibadat dilakukan mempunyai hubungan secara langsung dengan Allah. Malah ia asuhan dan didikan mendekatkan diri kepada Allah serta mencintai-Nya.

Muslim yang berdiri di hadapan Allah untuk menunaikan solat fardu atau sunat dalam keadaan penuh suci lagi khusyuk, adalah didikan praktikal mencetuskan hubungan secara langsung dengan Allah serta memberi kesan mendalam terhadap jiwanya.

Seseorang Muslim sentiasa berada dalam keadaan berjuang melawan hawa nafsunya sehingga sampai ke tahap merasakan nikmat berhubungan serta mendekatkan diri kepada Allah. Maka, pada ketika itu solat baginya adalah pertemuan dinanti-nantikan dan di situlah ketenangan serta kerehatan.

Rasulullah SAW menemui ketenangan dalam solat. Biasanya apabila Baginda SAW ditimpa sesuatu masalah, maka Baginda akan segera mengerjakan solat sambil berkata kepada Bilal:
“Berikan kerehatan kepada kami wahai Bilal.”

Jelas menunjukkan perasaan seorang ‘abid (hamba) yang mendapati solat itu pertemuan antaranya dengan Allah.

Ibadat zakat adalah penyempurnaan kepada matlamat solat iaitu mendapatkan kejayaan di dunia dan akhirat. Pada dasarnya zakat disyariatkan untuk menyucikan jiwa seseorang Muslim daripada segala akhlak yang keji.

Jadi, dengan mengeluarkan zakat bermakna seseorang Muslim itu sudah membersihkan jiwa dan hartanya daripada kekotoran seterusnya sebagai tanda bersyukur atas kenikmatan rezeki dikurniakan Allah.

Selain itu, ibadat puasa dapat menumpukan usaha pembersihan dan pentarbiahan jiwa dengan menjauhi perkara mungkar semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Pada Ramadan seseorang Muslim dapat merasakan keagungan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, iaitu al-Quran yang diturunkan untuk mengeluarkan manusia daripada kejahilan kepada keimanan. Justeru, waktu malamnya dihabiskan untuk beribadat, merenungi serta bersyukur kepada Allah.

Dalam menunaikan ibadat haji pula, seseorang Muslim merasakan dirinya menjadi tetamu Allah serta merasai keagungan nikmat-Nya. Untuk menghadiri rumahnya yang mulia itu, kita seharusnya membersihkan rohani daripada segala kotoran dan menggunakan perbelanjaan harta yang bersih.

Begitulah didikan secara praktikal untuk menyintai Allah dan mendekati-Nya. Kesediaan jiwa meninggalkan perkara amat diingini dan disayanginya tanda kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.

Inilah dikatakan ihsan dan Rasulullah SAW sendiri pernah ditanya Malaikat Jibril mengenai maksud ihsan lalu Baginda menjawab:
“Bahawa engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya (sekalipun) sebenarnya Ia melihat engkau.”
(Hadis Muttafaq ‘Alaih)

Sehubungan itu, beribadat perlu dalam keadaan hati merasai kehadiran Allah, membuang dan melupakan kesibukan dunia buat sementara waktu. Beribadat dalam keadaan seperti inilah yang dianjurkan Rasulullah SAW.

Sabda Baginda SAW yang bermaksud:
“Allah tidak memandang kepada solat seorang lelaki yang dikerjakan tanpa kehadiran hati berserta gerak badannya.”

Al-Hasan al-Basri pula menjelaskan:
“Setiap sembahyang yang tidak disertai kehadiran hati, maka ia lebih hampir kepada seksaan.”

Di samping itu, kita mestilah beribadat dalam keadaan sentiasa ingin menambahnya, tidak berasa cukup dan tidak pula terlalu mudah berpuas hati.

sumber : diari islamiah

Ahad, 28 Ogos 2011

Program Hiburan di media Eloktronik cacatkan Ibadah Aidilfitri

AIDILFITRI datang dan pergi sebagai kurnia dan anugerah Allah kepada hamba-Nya untuk meraikan kemenangan dalam menghadapi dugaan selepas menunaikan ibadah sepanjang Ramadan. Saban tahun umat Islam bergembira merayakan Aidilfitri dengan mengamalkan tradisi balik kampung untuk menemui ayah bonda serta sanak-saudara. Tidak kurang juga ada yang mengunjung rumah jiran berdekatan untuk mengeratkan silaturahim dan jalinan persaudaraan sesama mereka.

Namun dalam kemeriahan kita menyambut hari lebaran, kita sering kali dibudayakan dengan cara sambutan yang tidak wajar dan dilihat bertentangan dengan amalan sebenar dalam menyambut kedatangan 1 Syawal. Setiap tahun apabila menjelangnya Aidilfitri, pelbagai program dan pengisian yang berbentuk hiburan melampau disajikan televisyen. Ia seolah-seolah tidak ubah seperti persaingan antara syarikat media untuk mendapat tempat di hati masyarakat Islam dan bukan lagi dianggap sebagai amanah dan tanggungjawab untuk mendidik masyarakat. Akibatnya, pelbagai bentuk rancangan yang tidak wajar dipertontonkan menerusi televisyen bagi mengisi kekosongan Aidilfitri. Lantaran itu, hari mulia 1 Syawal dicemari dengan pelbagai bentuk hiburan melampau yang bertentangan dengan norma serta nilai hidup bangsa dan agama kita.

Ia secara tidak langsung mengubah persepsi generasi muda yang tersalah faham dengan meletakkan televisyen sebagai teras utama dalam menyambut Aidilfitri. Sebagai contoh kebanyakan daripada kita terlalu leka dengan sajian hiburan yang melampau sedangkan tanggungjawab sebenar dalam melakukan perkara yang dituntut seperti berziarah, bertegur sapa, bermaaf-maafan dan sebagainya diabaikan. Tidak kurang ada yang sanggup menghabiskan sepanjang hari dengan pergi ke panggung wayang menonton sehingga melupakan amalan menziarahi. Maka, dengan sajian sedemikian, akan menyebabkan terhakisnya nilai kemuliaan Aidilfitri.

Amalan ziarah untuk saling mengenali antara satu sama lain gagal dicapai disebabkan masing-masing sibuk menonton rancangan televisyen yang menarik. Tujuan tetamu yang pada mulanya hadir untuk beramah mesra dan merapatkan hubungan yang terjalin dengan tuan rumah berubah sebaik saja rancangan menarik tersaji di rumah tuan rumah. Maka, masing-masing mengalihkan perhatian dengan hanya memberikan tumpuan kepada apa yang disajikan televisyen.

Sedangkan menghormati dan memuliakan tetamu adalah suatu perkara yang dituntut dalam Islam. Nabi pernah bersabda: “Sesiapa yang beriman dengan Allah dan hari akhirat, maka muliakanlah tetamunya”. Di samping itu, nilai komunikasi sesama kita dalam bentuk beramah mesra, bertegur-sapa, saling bermaafan juga dibataskan.

Aidilfitri sebenarnya perlu diisi dengan laungan takbir dengan memuji kebesaran Allah dan tasbih sebagai tanda meraikan kemenangan kita dalam menyempurnakan ibadat Ramadan. Dalam satu hadis Rasulullah bersabda : “Hiasilah hari raya kamu dengan takbir, tahlil, tahmid, dan taqdis”. Pada masa sama, Aidilfitri juga menitikberatkan dua perkara asas iaitu pertalian ukhuwah sesama Muslim dan juga tazkiyatun nafsi atau pembersihan jiwa yang dibina menerusi madrasah Ramadan selama sebulan.
Maka, di sini jelas, sekiranya Aidilfitri itu sendiri diisi dengan pelbagai bentuk kemungkaran, kemaksiatan, dan hiburan yang melampau, ia sememangnya bercanggah dengan tujuan dan cara sebenar dalam meraikannya.

Dalam pada itu, nilai spiritual atau kerohanian yang dibina melalui kejayaan Ramadan juga terhakis. Madrasah Ramadan yang dianjurkan agama khusus untuk melahirkan insan yang bertakwa sukar direalisasikan ekoran pelbagai program hiburan yang bertentangan dengan adat dan agama direncanakan menerusi televisyen.

Meskipun begitu, saya secara peribadi ingin menyatakan sekalung pujian dan tahniah kepada pihak media terutama media elektronik dan media cetak tempatan yang dilihat banyak melakukan perubahan ke arah yang lebih baik untuk mendidik masyarakat terutama pada Ramadan lalu. Akan tetapi, sebaik saja berakhirnya Ramadan, pelbagai sajian yang tidak enak disajikan sehingga menyebabkan umat Islam menjadi lalai dan leka.

Masing-masing hanya mengutamakan semangat hedonisme dalam merayakan Aidilfitri dan tidak lagi mengutamakan semangat untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan selepas tamat Ramadan. Sedangkan Aidilfitri adalah salah satu medan bagi umat Islam untuk membuat perubahan dan penilaian diri dari semasa ke semasa.
Ana juga amat bersetuju dengan pandangan Mufti Perak, Datuk Seri Harussani Zakaria yang pernah menyatakan bahawa sekiranya Aidilfitri disambut dengan metod dan pengisian hiburan yang keterlaluan, hukumnya adalah haram. Apabila jatuhnya hukum haram, maka sambutan Aidilfitri tidak lagi dianggap sebagai ibadah tetapi hanya adat tradisi yang bercanggah dengan agama.

wallahu'alam..

sumber : diari islamiyyah

Puasa sunat syawal

Menumbuhkan kekuatan jiwa manusia dalam mengawal nafsu syahwat


SETELAH berpuasa selama sebulan pada Ramadan dan merayakan Aidilfitri, umat Islam sangat digalakkan berpuasa sunat Syawal selama enam hari bagi mengimbangi kesihatan yang telah menikmati pelbagai makanan ketika hari raya. Puasa enam hari pada Syawal juga dapat melatih kembali hati dan diri daripada godaan nafsu.

Puasa sunat Syawal boleh dilakukan enam hari pada bulan Syawal, berturut-turut atau terpisah asalkan tidak sampai melewati bulan berkenaan. Pada hari raya pertama dilarang berpuasa.
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan (penuh) lalu diikuti dengan berpuasa enam hari pada Syawal maka dia seperti berpuasa seumur hidup.”
(Riwayat Muslim)

Sementara dalam satu hadis yang lain Nabi SAW yang bermaksud:

“Berpuasa sebulan (pada Ramadan itu disamakan) dengan sepuluh bulan berpuasa dan berpuasa enam hari selepasnya (di bulan Syawal disamakan) dengan dua bulan berpuasa, maka yang sedemikian itu (jika dicampurkan menjadi) genap setahun.”
(Riwayat ad-Darimi)

Puasa sunat Syawal ini adalah untuk menampung kekurangan yang ada ketika puasa Ramadan kita. Misalnya, kebanyakan daripada kita hanya berpuasa secara menahan lapar dan dahaga saja. Sedangkan, perkara lain harus diberi perhatian seperti puasa telinga, lidah dan sebagainya. Maka puasa sunat Syawal adalah untuk menampung kekurangan yang terdapat dalam puasa fardu.

Umat Islam hendaklah banyak melakukan amalan sunat seperti banyak bersembahyang sunat, membaca al-Quran, bersedekah dan berpuasa sunat untuk menguatkan iman kita. Selain itu, kita dapat mengemaskan amalan wajib, kita juga dianjurkan memperbanyak amalan sunat.
Ini disebabkan amalan sunat menyempurnakan amalan wajib kita. Meninggikan pangkat dan darjat kita di syurga serta dapat meningkatkan ketakwaan kepada-Nya. Dalam melaksanakan amalan sunat ini, perlu kita ingat, jangan sampai melalaikan perkara yang wajib.

Sebagai contoh kita hendak mengejar tahajud malam sehingga terlewat dan tertinggal sembahyang Subuh atau tidak berpuasa Ramadan tetapi menunaikan puasa sunat Syawal. Selain itu, banyak melakukan sedekah dan ibadah sunat tetapi tidak bersilaturahim sesama manusia kerana bersilaturahim itu hukumnya wajib dan perlu dilaksanakan dulu.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, menjelaskan mengenai tatacara berpuasa iaitu jika kamu berpuasa, janganlah kamu menyangka bahawa berpuasa itu cuma meninggalkan makan, minum dan bersetubuh. Bahkan juga menahan mata daripada memandang sesuatu yang dibenci oleh Allah, menahan lisan daripada mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat, menahan telinga daripada mendengar sesuatu yang diharamkan oleh Allah, kerana sesungguhnya pendengaran itu menemani orang yang berbicara.

Selain itu menurutnya lagi, masing-masing daripada keduanya adalah pengumpat. Begitu juga kamu mencegah seluruh anggota tubuh seperti mencegah perut dan kemaluan. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:

“Barang siapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak menghendaki puasanya, hanya lapar
dan dahaga saja.”
(Riwayat Al Bukhari).

Ibadah puasa mengandung beberapa manfaat yang besar, antaranya adalah menguatkan kemahuan dan menumbuhkan kekuatan dan kedapatan jiwa manusia dalam mengawal nafsu syahwatnya.

Puasa juga perisai kepada kekuatan rohani. Pelbagai penyakit rohani dapat dihalang dengan berpuasa. Antaranya ialah hasad dengki, sombong, riak, memfitnah, mengumpat, melakukan perbuatan zalim, berdusta, marah, mencaci-maki, mungkir janji, bercakap bohong dan menipu.

Dengan berpuasa termasuk puasa sunat dapat merawat pelbagai penyakit rohani seperti mengingati Allah SWT, mengerjakan solat, bertaubat, takut kepada Allah SWT, mujahadah, musahabah diri, sabar, qana'ah, warak, zuhud, tawaduk, istiqamah, takwa dan menjauhkan makanan dan minuman haram.

Wallahua'lam..

Jumaat, 26 Ogos 2011

Doa yang tiada hijab dengan Allah

FIRMAN Allah yang bermaksud:

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku maka (jawablah) bahawa Aku adalah dekat. Aku memakbulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku), dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran.
(Surah al-Baqarah, ayat 186)

Sheikh al-Maraghi menjelaskan, apabila Allah menuntut hambanya mengenai kefarduan puasa Ramadan, menyempurnakan bilangannya serta menggesa supaya bertakbir untuk persiapan bersyukur, ayat ini sebagai dalil bahawa Allah bersifat Maha Mengetahui keadaan dan Maha Mendengar segala doa mereka.

Sayid Qutub pula berkata, sebelum rangkaian ayat ini meneruskan penerangannya tentang hukum mengenai masa puasa, batasan merasai kenikmatan puasa dan peraturan imsak, kita dapati ia mengemukakan satu tarikan kepada persoalan jauh di sudut jiwa dan rahsia hati manusia.

Sebab turunnya ayat ini, Nabi SAW mendengar orang Islam berdoa kepada Allah dengan suara yang tinggi dalam peperangan Khaibar. Lantas Nabi SAW bersabda kepada mereka yang bermaksud:

Hai manusia, perlahankan suara kamu dalam berdoa kerana kamu tidak berdoa kepada yang pekak dan tidak kepada yang ghaib. Sesungguhnya kamu berdoa kepada yang Maha mendengar, dekat dan bersamamu.

Selain itu, Ibnu al-Jauzi ada menyebut pendapat lain berkenaan turunnya ayat ini, iaitu seorang Badwi datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya: Adakah Tuhan kita hampir untuk munajat atau jauh untuk menyeru? Kemudian turunnya ayat ini.

Ibnu Kathir dalam tafsirnya menyatakan, Allah menjelaskan bahawa Dia adalah dekat. Dia memperkenankan doa orang yang memohon dan memenuhi sebarang hajat orang yang meminta. Tidak ada tirai pendinding antara Allah dengan salah seorang hamba-Nya. Oleh itu, mereka sewajarnya menghadap hanya kepada-Nya dalam berdoa, merendahkan diri, lurus dan memurnikan ketaatan kepada-Nya semata-mata.

Prof Hamka menyatakan di penghujung ayat ini, jadikanlah bulan puasa sebagai bulan penuh ibadat, membaca al-Quran, solat dan berdoa. Oleh kerana doa amat penting dan menjadi otak daripada ibadat, maka Allah berkenan memberitahu mengenai doa dan bagaimana sambutan-Nya jika hamba-Nya berdoa menyeru nama-Nya dan memohon sesuatu hajat.
Oleh sebab itu, Allah dekat dengan hamba-Nya, maka hendaklah berdoa dan memohon kepada Allah dengan ikhlas dan tidak perlu bersuara keras mahu pun bertempik menyeru nama-Nya.

Lantaran dekatnya Allah dengan manusia, maka tidak perlu perantaraan atau wasilah antara manusia dengan Allah, berdoa dan memohon langsung terus kepada Allah. Malah, Allah hampir pada seseorang yang menarik nafasnya yang penghabisan menunggu saat-saat kematian sebagaimana firman Allah bermaksud:

Dan Kami adalah lebih dekat kepadanya daripada kamu, akan tetapi
kamu tidak melihat.
(Surah al-Waqiah, ayat 87)

Melaksanakan ibadat puasa, seseorang Muslim dilatih dalam keadaan beribadat dan berdoa. Pada masa sama, apabila semakin bertambah makrifahnya kepada Allah, maka semakin bertambahlah ikhlas dan tawakal kepada-Nya.

Natijah daripada latihan dilalui seseorang yang berpuasa terhadap jiwanya dan imannya adalah dia semakin dekat dengan Allah SWT. Lantaran, hampirnya dengan Allah itu yang menyebabkan doanya mudah dikabulkan Allah.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:

Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah, yang doa itu tidak bermaksud dosa dan tidak bertujuan memutuskan silaturahim, melainkan Allah SWT pasti akan memperkenankan doa itu melalui tiga cara, iaitu doa itu akan diperkenankan dengan serta merta, ada kalanya doa itu disimpan dan ditangguhkan dulu untuk persediaannya pada hari akhirat dan ada kalanya dijauhkan dan dipalingkan daripada kejahatan yang seumpama dengannya. (Hadis riwayat Bukhari)

Menariknya, ibadat doa termasuk dalam ayat puasa sekali gus bermaksud doa orang berpuasa itu lebih dekat dikabulkan Allah. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:

Bagi orang yang berpuasa itu sewaktu hendak berbuka puasa adalah
doa yang mustajab.
(Hadis riwayat Abu Daud)

Sabda Baginda SAW lagi yang bermaksud:

Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak, iaitu doa pemerintah yang adil, doa orang berpuasa sehingga dia berbuka puasa dan doa orang dianiayai. Akan diangkat doa itu oleh Allah ke atas awan pada hari kiamat kelak dan akan dibukakan baginya pintu langit, lalu Allah berfirman: Demi kemuliaan-Ku, sesungguhnya Aku akan tolong kamu walaupun dalam masa yang sekejap saja. (Hadis riwayat Ahmad, Nasai, Tirmizi dan Ibnu Majah).

wallahu a'lam..

Ibadah bertunjangkan syariat Islam

AIDILFITRI hari umat Islam menikmati rahmat kegembiraan dan kebahagiaan lantaran banyaknya anugerah Allah dikecapi sepanjang Ramadan kepada semua hamba-Nya. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
“Bagi orang yang berpuasa itu akan dikurniakan dua kegembiraan, kegembiraan ketika Aidilfitri dan kegembiraan ketika bertemu Allah SWT.”

Tidak dapat dinafikan kanak-kanak adalah golongan paling seronok apabila menjelang Aidilfitri saban tahun. Bagi kanak-kanak yang berlatih berpuasa pada Ramadan, hari raya adalah kemuncak kesyukuran kerana berjaya menyempurnakan ibadah menjadi salah satu tunjang Rukun Islam.

Ditambah lagi, budaya menyambut hari raya di Malaysia cukup meriah, menyemarakkan lagi perasaan gembira di hati kanak-kanak. Pada hari itu mereka akan berpeluang memakai baju serba baru, makan pelbagai juadah istimewa, mengutip angpau berisi dan menonton rancangan hari raya.

Tidak ada salah dan silapnya untuk kanak-kanak merasai keseronokan sebegini sepanjang sambutan hari raya. Namun, mereka perlu dibimbing dan difahamkan konsep ‘wasadtiah’ atau bersederhana menyambut Aidilfitri mengikut lunas Islam.

Selama sebelas bulan manusia bergelumang dengan tuntutan keduniaan dan kehendak nafsu, selama itu jugalah fitrah asal manusia sudah tercemar. Maka, dengan izin Allah, manusia dikurniakan ruang terbaik pada Ramadan untuk berpuasa dan melaksanakan amalan menguatkan serta menyucikan semula fitrahnya.

Dari perspektif Islam, sambutan Aidilfitri bermaksud hari yang disambut sebagai tanda kejayaan dalam mengembalikan fitrah seseorang hamba Allah kepada keadaan asalnya yang suci dan bersih.

Mendidik kanak-kanak menyambut kejayaan mengembalikan fitrah yang suci pada hari raya tidak sepatutnya disulam dengan unsur negatif. Contohnya, boros berbelanja pakaian, terlalu leka menonton hiburan di televisyen, makan terlalu banyak dan membazir, lalai melaksanakan solat dan bermain mercun.

Kanak-kanak perlu diasuh meneruskan kesinambungan amal ibadah yang bersifat khusus atau umum dilaksanakan sepanjang Ramadan pada bulan berikutnya. Ibadat khusus seperti berpuasa boleh diteruskan dengan puasa sunat enam hari pada bulan Syawal serta puasa sunat Isnin dan Khamis.

Begitu amalan qiamullail yang diakui kelebihan dan faedahnya daripada pandangan Islam dan perspektif sains. Bertandang ke masjid atau surau untuk solat berjemaah perlu digalakkan. Ajarkan kanak-kanak memperbanyakkan membaca al-Quran, memahami maksudnya, berzikir dan berdoa.

Amalan khusus seperti ini berupaya membentuk jiwa kanak-kanak yang ikhlas untuk beribadah, sentiasa mendapat petunjuk dan hidayah dengan izin-Nya.

Ibadah sunat muakkad (sunat yang sangat dituntut) yang sukar untuk ditemui pada bulan lain seperti solat sunat Aidilfitri dan bertakbir juga perlu diterapkan sebagai ‘istimewa’ buat anak-anak kerana kedua-dua ibadah sunat ini menjadi simbolik sifat kesyukuran dan kekuatan umat Islam melaksanakan ibadah wajib berpuasa sepanjang Ramadan.

Pentingnya galakan menunaikan solat sunat hari raya dinyatakan Imam Al-Bukhari dalam riwayat hadis Ummu `Athiyah, beliau berkata: “Kami sekalian diperintahkan keluar pada solat sunat dua hari raya sehingga wanita yang haid pun keluar, kemudian menempatkan diri di belakang kaum muslimin, mereka turut bertakbir mengiringi takbir kaum muslimin.”

Begitu juga tuntutan bertakbir dan bertahmid mengagungkan kebesaran Allah SWT melalui firman-Nya yang bermaksud:

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (hari terakhir Ramadan 30 hari) dan kamu mengagungkan Allah (bertakbir raya) atas petunjuk-Nya yang dianugerahkan kepada kamu supaya kamu menjadi orang yang bersyukur.” (Surah al-Baqarah, ayat 185)

Amalan mulia lain seperti menziarahi pusara sanak saudara dan menghadiahkan mereka bacaan ayat suci al-Quran, menyertai perkumpulan marhaban, menghadiri majlis ilmu, berjimat cermat berbelanja, bersedekah, bantu-membantu orang yang tidak berkemampuan, hormat kepada orang tua, adalah ibadah umum yang perlu disuburkan dalam diri kanak-kanak.

Tujuannya supaya mereka faham konsep ‘amal makruf, nahi mungkar’ iaitu memperbanyakkan amalan mulia dan meninggalkan perbuatan dilarang.

Teguhnya peribadi mulia kanak-kanak yang dibentuk sepanjang Ramadan tidak akan bermakna jika ibu bapa atau penjaga tidak menunjukkan contoh yang baik sebagai ikutan mereka meraikan Aidilfitri.

Bersederhana dan wujudkan suatu anjakan paradigma untuk beramal ibadah bertunjangkan syariat Islam semasa menyambut hari lebaran ini.


Didikan tepat akan mengubah tanggapan anak-anak yang selama ini menyatukan makna Aidilfitri dengan duit raya, mercun dan bunga api semata-mata kepada terbitnya kemanisan iman serta rasa tawaduk dan syukur ke hadrat Ilahi.

wallahu a'lam..

sumber: diari Islamiyyah

Rabu, 24 Ogos 2011

Nilai tudung seorang wanita


Nilai Tudung Seorang Wanita

Bila wanita menjaga auratnya dari pandangan lelaki bukan muhram, bukan sahaja dia menjaga maruah dirinya, malah maruah wanita mukmin keseluruhannya. Harga diri wanita terlalu mahal. Ini kerana syariat telah menetapkan supaya wanita berpakaian longgar dengan warna yang tidak menarik serta menutup seluruh badannya dari kepala hingga ke kaki.


Kalau dibuat perbandingan dari segi harta dunia seperti intan dan berlian, ianya dibungkus dengan rapi dan disimpan pula di dalam peti besi yang berkunci. Begitu juga diumpamakan dengan wanita, Kerana wanita yang bermaruah tidak akan mempamerkan tubuh badan di khalayak umum. Mereka masih boleh tampil di hadapan masyarakat bersesuaian dengan garisan syarak. Wanita tidak sepatutnya mengorbankan maruah dan dirinya semata-mata untuk mengejar pangkat, darjat, nama, harta dan kemewahan dunia.


Menyentuh berkenaan pakaian wanita, alhamdulillah sekarang telah ramai wanita yang menjaga auratnya, sekurang-kurangnya dengan memakai tudung. Dapat kita saksikan di sana sini wanita mula memakai tudung. Pemakaian tudung penutup aurat sudah melanda dari peringkat bawahan hingga kepada peringkat atasan. Samada dari golongan pelajar-pelajar sekolah hinggalah kepada pekerja-pekerja pejabat-pejabat.

Walaupun pelbagai gaya tudung diperaga dan dipakai, namun pemakaiannya masih tidak lengkap dan sempurna. Masih lagi menampakkan batang leher, dada dan sebagainya. Ada yang memakai tudung, tetapi pada masa yang sama memakai kain belah bawah atau berseluar ketat dan sebagainya.



Pelbagai warna dan pelbagai fesyen tudung turut direka untuk wanita-wanita Islam kini. Ada rekaan tudung yang dipakai dengan songkok di dalamnya, dihias pula dengan kerongsang (broach) yang menarik. Labuci warna-warni dijahit pula di atasnya. Dan berbagai-bagai gaya lagi yang dipaparkan dalam majalah dan suratkhabar fesyen untuk tudung.

Rekaan itu kesemuanya bukan bertujuan untuk mengelakkan fitnah, sebaliknya menambahkan fitnah ke atas wanita. Walhal sepatutnya pakaian bagi seorang wanita mukmin itu adalah bukan sahaja menutup auratnya, malah sekaligus menutup maruahnya sebagai seorang wanita. Iaitu pakaian dan tudung yang tidak menampakkan bentuk tubuh badan wanita, dan tidak berhias-hias yang mana akan menjadikan daya tarikan kepada lelaki bukan muhramnya.

Sekaligus pakaian boleh melindungi wanita dari menjadi bahan gangguan lelaki yang tidak bertanggungjawab. Bilamana wanita bertudung tetapi masih berhias-hias, maka terjadilah pakaian wanita Islam sekarang walaupun bertudung, tetapi semakin membesarkan riak dan bangga dalam diri. Sombong makin bertambah. Jalan mendabik dada. Terasa tudung kitalah yang paling cantik, up-to-date, sofistikated, bergaya, ada kelas dan sebagainya. Bertudung, tapi masih ingin bergaya.

Kesimpulannya, tudung yang kita pakai tidak membuahkan rasa kehambaan. Kita tidak merasakan diri ini hina, banyak berdosa dengan Tuhan mahupun dengan manusia. Kita tidak terasa bahawa menegakkan syariat dengan bertudung ini hanya satu amalan yang kecil yang mampu kita laksanakan. Kenapa hati mesti berbunga dan berbangga bila boleh memakai tudung?

Ada orang bertudung tetapi lalai atau tidak bersembahyang. Ada orang yang bertudung tapi masih lagi berkepit dan keluar dengan teman lelaki . Ada orang bertudung yang masih terlibat dengan pergaulan bebas. Ada orang bertudung yang masih menyentuh tangan-tangan lelaki yang bukan muhramnya. Dan bermacam-macam lagi maksiat yang dibuat oleh orang-orang bertudung termasuk kes-kes besar seperti zina, khalwat dan sebagainya.

Jadi, nilai tudung sudah dicemari oleh orang-orang yang sebegini. Orang Islam lain yang ingin ikut jejak orang-orang bertudung pun tersekat melihat sikap orang-orang yang mencemari hukum Islam. Mereka rasakan bertudung atau menutup aurat sama sahaja dengan tidak bertudung. Lebih baik tidak bertudung. Mereka rasa lebih bebas lagi. Orang-orang bukan Islam pula tawar hati untuk masuk Islam kerana sikap umat Islam yang tidak menjaga kemuliaan hukum-hakam Islam.

Walaupun bertudung, perangai mereka sama sahaja dengan orang-orang bukan Islam. Mereka tidak nampak perbezaan agama Islam dengan agama mereka. Lihatlah betapa besarnya peranan tudung untuk dakwah orang lain. Selama ini kita tidak sedar diri kitalah agen bagi Islam. Kita sebenarnya pendakwah Islam. Dakwah kita bukan seperti pendakwah lain tapi hanya melalui pakaian.

Kalau kita menutup aurat, tetapi tidak terus memperbaiki diri zahir dan batin dari masa ke semasa, kitalah punca gagalnya mesej Islam untuk disampaikan. Jangan lihat orang lain. Islam itu bermula dari diri kita sendiri. Ini tidak bermakna kalau akhlak belum boleh jadi baik tidak boleh pakai tudung. Aurat, wajib ditutup tapi dalam masa yang sama, perbaikilah kesilapan diri dari masa ke semasa. Tudung di luar tudung di dalam (hati).

Buang perangai suka mengumpat, berdengki, berbangga, ego, riak dan lain-lain penyakit hati. Walau apapun, kewajipan bertudung tidak terlepas dari tanggungjawab setiap wanita Muslim. Samada baik atau tidak akhlak mereka, itu adalah antara mereka dengan Allah. Amat tidak wajar jika kita mengatakan si polanah itu walaupun bertudung, namun tetap berbuat kemungkaran.

Berbuat kemungkaran adalah satu dosa, manakala tidak menutup aurat dengan menutup aurat adalah satu dosa lain. Kalau sudah mula menutup aurat, elak-elaklah diri dari suka bertengkar. Hiasi diri dengan sifat tolak ansur. Sentiasa bermanis muka. Elakkan pergaulan bebas lelaki perempuan. Jangan lagi berjalan ke hulu ke hilir dengan teman lelaki.

Serahkan pada Allah tentang jodoh. Memang Allah sudah tetapkan jodoh masing-masing. Yakinlah pada ketentuan qada' dan qadar dari Allah. Apabila sudah menutup aurat, cuba kita tingkatkan amalan lain. Cuba jangan tinggal sembahyang lagi terutama dalam waktu bekerja. Cuba didik diri menjadi orang yang lemah-lembut. Buang sifat kasar dan sifat suka bercakap dengan suara meninggi. Buang sikap suka mengumpat, suka mengeji dan mengata hal orang lain. jaga tertib sebagai seorang wanita.



Jaga diri dan maruah sebagai wanita Islam. Barulah nampak Islam itu indah dan cantik kerana indah dan cantiknya akhlak yang menghiasi peribadi wanita muslimah. Barulah orang terpikat untuk mengamalkan Islam. Dengan ini, orang bukan Islam akan mula hormat dan mengakui "Islam is really beautiful." Semuanya bila individu Islam itu sudah cantik peribadinya.

Oleh itu wahai wanita-wanita Islam sekalian, anda mesti mengorak langkah sekarang sebagai agen pengembang agama melalui pakaian.

7 Sunnah penting...........

Dalam kehidupan sehari-hari ada kala kita mungkin telah melampaui batas. Imaginasi kotor, percakapan dan perbuatan yang tidak betul menjadikan kita selalunya semakin jauh dengan Allah. Tetapi itulah kita manusia, tak lari dari kesilapan..dan mujurlah Allah selalu membuka pintu taubat kepada kita, agar dapat kita meneruskan perjalanan menuju akhirat dengan lebih berkat. Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:
 
Pertama:
Tahajjud, kerana kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya. Pastinya doa mudah termakbul dan menjadikan kita semakin hampir dengan Allah.
 
Kedua:  
Membaca Al-Qur'an sebelum terbit matahari, alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur'an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman. Paling tidak jika sesibuk manapun kita, bacalah ayat 3Qul, atau ayat qursi.
 
Ketiga:
Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu subuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke mesjid, kerana masjid merupakan pusat keberkahan, bukan kerana panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.
 
Keempat:
Jaga sholat dhuha, kerana kunci rezeki terletak pada solat dhuha. Yakinlah, kesan solat dhuha sangat dasyat dalam mendatangkan rezeki.
 
Kelima:
Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari. Percayalah, sedekah yang diberikan akan dibalas oleh Allah berlipat kali ganda.
 
Keenam:
Jaga wudhu terus menerus kerana Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, "Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu solat walau ia sedang tidak solat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah".
 
Ketujuh: 

Amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yang terjadi kerana dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.
 
Zikir adalah bukti syukur kita kepada Allah. Bila kita kurang bersyukur, maka kita kurang berzikir pula, oleh kerana itu setiap waktu harus selalu ada penghayatan dalam melaksanakan ibadah ritual dan ibadah ajaran Islam lainnya. Zikir juga merupakan makanan rohani yang paling bergizi, dan dengan zikir berbagai kejahatan dapat ditangkal sehingga jauhlah umat manusia dari sifat-sifat yang berpangkal pada materialisme dan hedonisme.
 
Sebarkanlah ilmu ini, dan anda tidak akan rugi sedikitpun, sebarkan, semoga ianya memberi manfaat pada semua 

Ahad, 21 Ogos 2011

Pr. Dr. Muhaya : 5 Rukun kehidupan


Sabtu, 20 Ogos 2011

Berkenaan lailatul qadar...Jangan lepaskannya....

Laylatul Qadar atau Malam al-Qadar telah diketahui umum sebagai malam yang amat istimewa buat seluruh umat Islam. Ia berdasarkan ayat al-Quran dari surah al-Qadr . Firman Allah SWT :
Ertinya : "Malam Al-Qadar lebih baik dari seribu bulan"  (Al-Qadr : 2) .
Di Malam ini jugalah Nabi SAW bersungguh-sungguh beribadat melebihi malam-malam Ramadhan yang lain.  Disebutkan di dalam sebuah hadith :-
Ertinya : Adalah Nabi SAW, beribadat dengan (lebih) bersungguh dan kuat di sepuluh malam terakhir Ramdhan, tidak sebagaimana baginda di malam-malam yang lain" ( Riwayat Muslim, no 1175 )
Sebuah lagi hadis menyebut :- 
انه كان يعتكف فيها ويتحرى ليلة القدر خلالها
Ertinya : "Adalah Nabi SAW beriktikaf padanya dan berusaha mencari malam al-qadar darinya (malam-malam ramadhan)" ( Riwayat al-Bukhari & Muslim)
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر أحيا الليل وأيقظ أهله وشد مئزره
Ertinya : " Apabila telah masuk 10 terakhir bulan Ramadhan, maka Nabi menghidupkan malam, mengejutkan isterinya dan mengetatkan kainnya (tidak menyetubuhi isterinya kerana amat sibuk dengan ibadat yang khusus)" ( Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Waktunya
Malam Al-Qadar Indah Bagi Orang Beriman


Para ulama antaranya Syeikh Dr Yusof Al-qaradawi menyebut bahawa tarikh malam lailatul qadar sengaja di sembunyikan oleh Allah SWT agar umat manusia berusaha bersungguh-sungguh bagi mencarinya, bagaimanapun ada disebutkan terdapat tanda-tanda akan kemunculan malam yang terhebat ini.
Iaitu seperti hari esoknya yang tidak terlampu panas dan tidak pula sejuk, matahari pula tidak memancarkan sinarannya dan pelbagai lagi. Ia semuanya berasal dari hadith-hadith yang sohih.
Bagaimanapun tanda-tanda ini tidaklah begitu penting bagi individu yang benar-benar telah beribadat sepanjang malam. Ia juga tidak banyak memberikan manfaat kerana malam tersebut sudah terlepas sekiranya tanda itu dikenalpasti esoknya.
Malah, tanda ini juga adalah amat sukar menjadi tepat kerana suasana dan cuaca sesebuah Negara adalah berlainan. Di Negara barat contohnya mungkin sentiasa mendung kerana berada dalam musim sejuk, musim bunga manakala di Afrika pula mungkin sedang mengalami keterikan. Adakah malam al-qadar tidak muncul di tempat mereka kerana setiap siang adalah terik?.
Jawabnya, tanda-tanda ini hanyalah contoh yang berlaku di zaman Nabi SAW dan tidak lebih dari itu.
Menurut pandangan yang paling kuat di kalangan para ulama, ianya berlaku pada sepuluh malam yang terakhir, iaitu pada malam-malam ganjil.
Hadith Nabi menyebut:-
التمسوها في العشر الأواخر من رمضان
Ertinya : " Carilah ia (malam al-qadar) di sepuluh malam terakhir dari bulan ramadhan" (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Bagaimanapun, kita sekali lagi mungkin kebingungan pada tahun-tahun tertentu JIKA negara Arab memulakan puasa pada tarikh yang berbeza dengan negara-negara di Nusantara. Justeru, pada malam ganjil menurut kiraan Malaysia atau Saudi ?. Hal ini sukar diputuskan oleh para Ulama. Sudahnya, mereka menyarankan agar dihidupkan seluruh malam sahaja. Jawapan termudah tetapi tidak memuaskan hati tentunya. Wallahu alam.
carilah malam alqadar dengan ikhlas dan amal
 
Tarikhnya Berubah atau Tetap Setiap Tahun?
Sebahagian ulama mengatakannya bersifat tetap pada setiap tahun iaitu pada malam 27 Ramadhan, manakala majoriti ulama termasuk Imam An-Nawawi As-Syafie pula berpendapat ianya bertukar-tukar pada setiap tahun dan tidak kekal pada satu tarikh (Al-Majmu' 6/450).
Selain dari itu, berdasarkan dalil hadith al-Bukhari, kemungkinan terbesar adalah jatuh pada tujuh malam terakhir iaitu samada 25, 27 atau 29 Ramadhan berdasarkan sabdaan Nabi SAW:-
أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر ، فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر
Ertinya : Aku lihat mimpi kamu (sahabat) telah menepati di tujuh malam terakhir, sesiapa yang mencarinya, maka carilah ia di tujuh malam terakhir" ( Riwayat al-Bukhari , no 1911 & Muslim)
Dari tiga tarikh harapan itu, tarikh 27 Ramdhan adalah yang paling diharapkan oleh kebanyakan umat Islam (terutamany di negara Arab) dan ia juga dipegang oleh kebanyakan Sahabat Nabi SAW serta ulama silam, sehinggakan seorang sahabat bernama Ubay Bin Ka'ab ra bersumpah ia adalah malam ke dua puluh tujuh (di zamannya secara khasnya kerana beliau telah melihat tandanya dan yakin tarikh itu tidak berubah pada tahun-tahun berikutnya) dan zaman lain umumnya, sebagaimana dalil hadith yang menyebut:-
ليلة القدر ليلة سبع وعشرين
Ertinya : "Malam al-Qadar dalah malam ke dua puluh tujuh" (Riwayat Ahmad, Abu Daud, no 1386 )
Doa Terpenting Semasa Lailatul Qadar
Allah s.w.t pernah menegur manusia yang lupa doa untuk akhirat mereka di masa puncak kemakbulan doa. Anataranya seperti hari Arafah, sebagaimana dinyatakan dalam firmanNya :-
فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ
Ertinya : Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat ( Al-Baqarah : 200 )
Jelas dalam ayat ini Allah s.w.t menegur manusia yang lupakan kebaikan akhiratnya.
Lalu Allah s.w.t mewartakan bentuk doa yang sepatutnya, iaitu yang merangkumi kebaikan dunia dan akhirat..dan dilebihkan 'portion' atau bahagian akhirat apabila di tambah "selamatkan dari api neraka". Beerti doa untuk bahagian akhirat perlu lebih dari dunia.
Lihat doa yang diingini Allah s.w.t :-
وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ertinya : "Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ""Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" ( Al-Baqarah : 201 )
Di malam-malam akhir ramadhan ini target utama kita adalah mendapatkan keampunan Allah s.w.t. Inilah yang disebut dalam jawapan nabi s.a.w kepada Aisyah r.a :-
وقالت عائشة ـ رضي الله عنها ـ : يا رسول الله إن وافقت ليلة القدر، فما أقول ؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Ertinya : "Berkatalah Aisyah , Wahai Rasulullah, jika aku berkesempatan bertemu Malam Al-Qadar, apakah yang perlu aku katakan (doa) ? Bersabda Nabi : " Sebutlah doa " Ya Allah sesungguhnya dikaulah maha pengampun , dan amat suka memberi ampun, maka berikanlah daku keampunan"
Mestikah Mendapat Tanda ?
Sabda Nabi SAW :
من يقم ليلة القدر فيوافقها..
Ertinya : Barangsiapa yang menghidupkan malam qadar ini dan mendapatnya..." ( Riwayat Muslim)
Hadiith ini menyebabkan setengah ulama mengatakan bahawa setiap individu yang mendapat keberkatan malam al-qadar mestilah mengetahui berdasarkan hadith di atas.
Bagaimanapun, pandangan yang lebih tepat adalah seseorang individu itu mampu mendapat kebaikannya, samada ia mengetahuinya atau tidak mengetahuinya, tanpa menafikan bahawa sesetengah individu diberi rezeki  dan kelebihan oleh Allah untuk mengetahuinya melalui pelbagai cara termasuk mimpi, tanda menarik dan mungkin pelik dan sebagainya.
Tidak perlulah untuk solat malam di tepi pokok atau di hadapan baldi air, kerana ingin memastikan waktu pokok sujud atau air menjadi beku. Allah akan memberikan tandanya menurut kehendakNya.
Masa Berkat Berpanjangan atau Hanya Beberapa Saat?
Saya masih ingat, semasa saya berada di zaman kanak-kanak, tersebar info kepada kebanyakkan saya dan rakan-rakan ketika itu adalah :
waktu maqbul dan berkat ini beberapa saat sahaja. Jika terlepas maka saatnya rugilah sepanjang hayat.
Rupanya, ia hanya rekaan para pereka cipta sahaja yang tidak diketahui tujuan mereka. Hakikatnya, waktu berkat lagi makbul ini adalah luas sepanjang malam, ia telah disebutkan oleh Allah dengan jelas iaitu :-
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Ertinya : Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ( Al-Qadr : 5 )

Inilah yang diterangkan oleh Imam Al-Qurtubi di dalam kitabnya. (Al-Jami' Li  Ahkam al-Quran, 20/134 )
Wanita Haid Terhalang Dari Berkatnya ?
Adakah wanita sedang haid terhalang dari keberkatan lailatul Qadar?. Sudah tentu jawabnya tidak, Allah s.w.t maha adil. Bagi wanita sedang uzur pelbagai amalan dan ibadah yang masih boleh dilakukan seperti :-
  • 1) Berzikir
  • 2) Berdoa
  • 3) Membawa terjemahan Al-Quran serta memahaminya.
  • 4) Mendengar bacaan Al-Quran oleh suaminya, adik beradik atau dari kaset.
Sebahagian ulama silam dan moden seperti Syeikh Prof. Dr Muhammad Abu Laylah ( Prof Syariah di Univ Al-Azhar) berpendapat mereka dibenarkan juga membaca al-Quran tanpa memegangnya  (melalui hafazan), malah sebahagian yang lain seperti Fatwa Ulama Saudi pula membenarkan mereka membacanya melalui mashaf. Saya tidak ingin membincangkannya di sini. Sekadar memberikan idea dan keterbukaan di kalangan para ulama.
Semoga kita diberikan kekuatan ibadah dan keikhlasan di waktu malam tersebut.
sekian
Zaharuddin Abd Rahman

Jumaat, 19 Ogos 2011

Malam Lailatul Qadar

Malam Lailatul-Qadar sunat dicari, kerana malam ini merupakan suatu malam yang diberkati serta mempunyai kelebihan dan diperkenankan doa oleh Allah S.W.T. Malam Lailatul-Qadar adalah sebaik-baik malam mengatasi semua malam termasuk malam Jumaat. Allah S.W.T. berfirman dalam Surah Al-Qadr 97: Ayat 3.
Maksudnya:
" Malam Lailatul - Qadar lebih baik daripada seribu malam "
 
Ertinya menghidupkan malam Lailatul-Qadardengan mengerjakan ibadah adalah lebih baik daripada beribadah pada seribu bulan yang tidak ada Lailatul-Qadar seperti sabda Nabi s.a.w.:
Maksudnya:
" Sesiapa menghidupkan malam Lailatul-Qadar kerana beriman serta

mencari pahala yang dijanjikan akan mendapat pengampunan daripada

dosa-dosa yang telah lalu "

 
Diriwayatkan daripada Saiyidatina Aisyah r.a bahawa Rasulullah s.a.w. apabila tiba 10 hari terakhir bulan ramadhan, Baginda menghidupkan malam-malamnya dengan membangunkan isi rumah dan menjauhi daripada isteri-isterinya. Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan:
Maksudnya:
" Rasulullah s.a.w. berusaha sedaya upaya dalam malam-malam sepuluh

akhir Ramadhan melebihi usahanya daripada malam-malam lain. "

 
Malam Lailatul-Qadar berlaku pada 10 akhir daripada malam ganjil bulan Ramadhan. Rasulullah s.a.w. bersabda:
Maksudnya:
" Carilah malam Lailatul-Qadar pada sepuluh akhir bulan Ramadhan

dalam malam ganjil. "

 
Pendapat yang terkuat mengikut para ulama' bahawa malam Lailatul Qadar terkena pada malam 27 Ramadhan. Menurut Abu Ka'ab katanya, "Demi Allah sesungguhnya ibn Mas'ud telah meyakinkan bahawa malam Lailatul-Qadar jatuh dalam bulan Ramadhan manakala Lailatul-Qadar pula terjatuh pada malam 27, akan tetapi dia enggan memberitahu kepada kami (malam yang tepat) kerana bimbangkan kamu tidak lagi berusaha mencarinya." Daripada Riwayat Mu'awiyah:
Maksudnya:
" Bahawa Nabi Muhammad s.a.w telah bersabda dalam malam lailatul-qadar

iaitu malam ke-27. "
Riwayat ini disokong oleh pendapat Ibn Abbas yang mengatakan bahawa surah Al-Qadr mempunyai 30 perkataan. Perkataan yang ke-27 bagi surah itu terjatuh kepada dhamir(hia) yang kembalinya kepada Lailatul-Qadar.
 
Imam Ahmad telah meriwayatkan sebuah Hadith daripada Ibn Umar r.a yang berbunyi:
Maksudnya:
" Sesiapa yang mencari Lailatul-Qadar , dia hendaklah mencarinya pada malam

yang ke-27, carilah kamu malam Lailatul-Qadar pada malam yang ke-27. "
 
Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah, katanya, "Ya Rasulullah s.a.w. andainya aku mendapati
malam Lailatul-Qadar, apakah doa yang patut aku bacakan? Rasulullah s.a.w. berdoa dengan doa:
Maksudnya:
" Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, oleh itu berilah

keampunan-Mu untukku. "
 



Petikan dari :
FIQH & Perundangan Islam Jilid II
Wahbah al-Zuhaili
Terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka.

Rabu, 17 Ogos 2011

Doa terpenting semasa lailatul Qadar



Allah s.w.t pernah menegur manusia yang lupa doa untuk akhirat mereka di masa puncak kemakbulan doa. Anataranya seperti hari Arafah, sebagaimana dinyatakan dalam firmanNya :-

فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ
Ertinya : Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat ( Al-Baqarah : 200 ) 

Jelas dalam ayat ini Allah s.w.t menegur manusia yang lupakan kebaikan akhiratnya.

Lalu Allah s.w.t mewartakan bentuk doa yang sepatutnya, iaitu yang merangkumi kebaikan dunia dan akhirat..dan dilebihkan 'portion' atau bahagian akhirat apabila di tambah "selamatkan dari api neraka". Beerti doa untuk bahagian akhirat perlu lebih dari dunia.
Lihat doa yang diingini Allah s.w.t :-

وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ertinya : "Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ""Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" ( Al-Baqarah : 201 )

Di malam-malam akhir ramadhan ini target utama kita adalah mendapatkan keampunan Allah s.w.t. Inilah yang disebut dalam jawapan nabi s.a.w kepada Aisyah r.a :-

وقالت عائشة ـ رضي الله عنها ـ : يا رسول الله إن وافقت ليلة القدر، فما أقول ؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Ertinya : "Berkatalah Aisyah , Wahai Rasulullah, jika aku berkesempatan bertemu Malam Al-Qadar, apakah yang perlu aku katakan (doa) ? Bersabda Nabi : " Sebutlah doa " Ya Allah sesungguhnya dikaulah maha pengampun , dan amat suka memberi ampun, maka berikanlah daku keampunan"...

Petanda malam Lailatul Qadar

Kata sesetengah ulama, Lailatulqadar berlaku pada satu malam tertentu seperti malam 21 dan 23 Ramadan. Ini menurut Imam Syafie r.a dan sesetengah ulama kerana ada hadis Bukhari dan Muslim yang menceritakan Lailatulqadar berlaku pada malam tersebut sehingga Rasulullah saw sujud dan dahinya yang mulia masih berlumuran tanah pada malam itu. Ada sesetengah ulama, tidak menentukannya secara pasti dan ada juga ulama terutama dari kalangan para zuhad dan sebagainya mengira dengan hari permulaan puasa.


Menurut mereka sekiranya permulaan puasa jatuh pada hari :

  • Ahad atau Rabu = Lailatulqadar ialah pada hari yang ke-29.
  • Jumaat atau Selasa Lailatulqadar ialah pada hari yang ke-27.
  • Khamis = Lailatulqadar ialah pada hari yang ke-25 Ramadan.
  • Sabtu = Lailatulqadar ialah pada hari yang ke-23.
  • Isnin = Lailatulqadar ialah pada hari yang ke-21.



Demikianlah kaedah yang diguna pakai oleh sebahagian ulama termasuk Imam Abul Hasan r.a. Tegas beliau: Aku tidak pernah terlepas malam Lailatulqadar tersebut dengan menggunakan kaedah ini.

Tanda Dan Alamat
Tanda dan alamatnya adalah banyak, antara lain malam itu sendiri berlalu dengan penuh keheningan dan tenteram, angin bertiup lembut sepoi-sepoi bahasa dan esoknya, pada pagi hari kelihatan langit agak redup dan cahaya matahari tidak begitu menyinari ruang angkasa dan macam-macam lagi.

Hikmah
Hikmatnya ialah apabila seseorang mengetahui malam Lailatulqadar tersebut, maka eloklah diperbanyakkan doa dan istighfar juga ibadat pada malam dan keesokannya, untuk mendapatkan fadilat hari yang penuh berkat dan mulia itu. Yakinlah apabila seseorang itu bersedia setiap malam Ramadan dengan ibadat, sekurang-kurangnya bersolat jemaah setiap waktu, Maghrib, Isyak dan Subuh, kata ulama dia pasti memperoleh fadilat malam Lailatulqadar

Oleh itu bersolatlah dengan tekun dan berterusan terutama pada bulan Ramadan al-Mubarak ini. Walau tinggal beberapa hari saja lagi malam-malam di bulan Ramadhan, pastikan kita menjadi juara diakhirnya nanti. Semoga Ramadhan kali ini menjanjikan kita kemenangan. Kemenangan melawan dan menguasai hawa nafsu. InsyaAllah

Ini hanyalah alamat atau petanda sahaja...Yang lebih afdhal eloklah kita perbanyakkan amalan kita pada 10 malam terakhir  itu..Carilah lailatul Qadar yang telah dijanjikan Allah istimewa untuk umat nabi Muhammad SAW
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...